KEMERDEKAAN YANG SESUNGGUHNYA

KEMERDEKAAN YANG SESUNGGUHNYA

Setap tanggal 17 Agustus merupakan tanggal yang ditunggu-tunggu, karena merupakan moment yang paling bersejarah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Meskipun sudah merdeka, kita tetap bisa mengingat yang telah diperjuangkan oleh pendahulu bangsa ini guna meraih kemerdekaan, perjuangan panjang para pendahulu bangsa ini berjuang melawan penjajah. Kemudian makna apa yang terkandung dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia ?, yang  paling  penting  adalah apakah kita merasa telah merdeka dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana mengisi kemerdekaan itu sendiri.

Kemerdekaan dalam bahasa Arab disebut al-Istiqla, ditafsirkan sebagai ”al-Taharrur wa al-Khalash min ayy Qaydin wa Saytharah Ajnabiyyah” (bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain),  atau “al- Qudrah ‘ala al-Tanfidz ma’a In‘idam Kulli Qasr wa ‘Unf min al-Kharij” (Kemampuan mengaktualisasikan diri tanpa adanya segala bentuk pemaksaan dan kekerasan dari luar dirinya). Jadi kemerdekaan bebas dari segala bentuk penindasan bangsa lain, kata lain untuk makna ini adalah al-hurriyyah, kata ini diterjemahkan dengan kebebasan. Dari kata ini terbentuk kata al-tahrir yang berarti pembebasan, orang yang bebas atau merdeka disebut al-hurr lawan dari al-‘abd (budak).

Menurut   Kamus   Besar   Bahasa   Indonesia,   merdeka   artinya   bebas   dari penghambaan,  penjajahan,  dan  lain-lain;  berdiri  sendiri;  tidak  terkena  atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa. Merdeka berarti bebas dari penjajahan, bebas dari tahanan, bebas dari kekuasaan, bebas intimidasi, bebas tekanan, dari nilai dan budaya yang mengungkung diri kita.

Kemerdekaan senantiasa mempunyai arti penting bagi kehidupan suatu bangsa, termasuk Bangsa Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan pengakuannya oleh dunia telah diperoleh bangsa ini dengan perjuangan berat tanpa kenal lelah dan pamrih. Modal kemerdekaan bangsa ini akan memiliki harga diri dan dapat bersama-sama duduk saling berdampingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Kemerdekaan juga diartikan bahwa suatu negara telah meraih hak kendali penuh atas seluruh bagian negaranya, dimana seseorang mendapatkan hak untuk  mengendalikan  dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain atau tidak bergantung pada orang lain. Arti dari sebuah kemerdekaan untuk diri kita sendiri adalah kebebasan dari kekangan hawa nafsu  dalam  diri kita.

Hawa nafsu  wajib  kita  atasi, karena apabila hawa nafsu tidak dapat teratasi, maka akan terjadi kemaksiatan, ketidakadilan, kekejian, kehancuran serta keinginan-keinginan yang dapat memecah belah rasa kesatuan yang dapat berdampak buruk bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Kemerdekaan dalam maknanya yang sejati dan luas adalah situasi batin yang terlepas dari segala rasa yang menghimpit, menekan dan menderitakan jiwa,  pikiran  dan  gerak  manusia  baik  yang  datang  dari  dalam  diri  sendiri maupun dari luar. Kemerdekaan merupakan suasana hati yang damai, tenang dan terbukanya kehendak dan harapan sesuai dengan tuntunan illahi. Kemerdekaan adalah sesuatu yang asasi dan yang melekat dalam diri setiap manusia, apapun latar belakang sosial, budaya, politik, jenis kelamin, agama, keyakinan, warna kulit, dan kebangsaannya.

Kemerdekaan hakikatnya bukan hanya semata terbebaskan dari belenggu penjajahan bangsa asing atau pihak lain. Tetapi lebih dari itu, kemerdekaan yang hakiki adalah kemampuan untuk membebaskan diri dari belenggu  hawa  nafsu  dan  ambisi  pribadi.  Manusia  merdeka  adalah  yang mampu  memerdekakan  dirinya  dari  berbagai  penghambaan  selain  kepada Allah Swt.

Seorang pejabat birokrasi atau pemimpin disebut merdeka apabila pejabat atau pemimpin itu mampu membebaskan dirinya dari ambisi-ambisi untuk kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, dan partai politik pengusungnya serta mampu membebaskan dirinya dari tekanan orang-orang tertentu, dan kemerdekaan pejabat itu tidak lain hanya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.

Seorang cendekiawan dan akademisi yang merdeka adalah yang selalu menyuarakan kebenaran dan keberpihakan kepada masyarakat banyak, pola pikirnya  tidak melakukan pembodohan terhadap masyarakat, apalagi dengan menggunakan dalil, argumentasi dan alasan yang sengaja didistorsikan atau disalahtafsirkan.

Seorang penegak hukum (baik itu hakim, jaksa, polisi maupun advokat) yang merdeka adalah orang yang memiliki komitmen kuat untuk menjadikan hukum yang benar sebagai panglima tertinggi di negeri ini. Asas keadilan dan obyektivitas akan benar-benar dijunjungnya, tidak akan berani mempermainkan hukum hanya karena iming-iming jabatan atau materi, dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu meskipun itu mengenai dirinya sendiri.

Seorang pegawai atau karyawan yang merdeka adalah orang yang berusaha mengoptimalkan potensi dirinya untuk meraih prestasi kerja yang baik dan bermanfaat, dengan landasan pengabdian dan penuh tanggungjawab. Seorang rakyat yang merdeka adalah rakyat yang menunjukkan sikap kritis dan bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kemaslahatan bangsanya ke depan. Rakyat yang merdeka tidak mudah diprovokasi oleh provokator yang tidak bertanggungjawab yang bermaksud menjadikan mereka sebagai obyek perasan dan kuda tunggangan demi ambisi dan kepentingan sesaat.